14 Residen Kabur dari Yayasan Omah Sehat Bersinar, Staf Terluka saat Berusaha Menahan

banner 468x60

Surabaya, Gantaranews.id – Sebanyak 14 residen atau klien rehabilitasi narkoba di Yayasan Omah Sehat Bersinar, Surabaya, dilaporkan kabur secara massal. Pihak manajemen mengaku kecolongan setelah belasan residen tersebut menerobos gerbang hingga merusak pintu akses keluar.

Perwakilan staf manajemen Yayasan Omah Sehat Bersinar, Alexander Tanadi, mengatakan peristiwa tersebut terjadi ketika sebagian staf sedang bertugas di dalam yayasan, sedangkan manajemen lainnya mengikuti kegiatan sosialisasi di Rutan Perempuan Surabaya.

Menurut Alexander, sebelum kejadian, dua residen berinisial SF dan IN diduga telah merencanakan aksi kabur secara bersama-sama pada Senin (12/10). Menjelang waktu salat Asar, salah seorang staf bernama Rudi keluar untuk mengecek progres renovasi ruang laktasi. Namun, tak lama kemudian, sekitar 14 residen tiba-tiba menerobos keluar.

“Staf kami berusaha menahan, tetapi tidak sanggup karena jumlahnya banyak. Bahkan, staf kami sampai mengalami luka-luka. Gerbang yang sudah ditutup juga dirusak. Ada yang melompat dan ada yang menerobos paksa,” ujar Alexander.

Bacaan Lainnya

Ia menyebut, sebelum kejadian, terdapat sekitar 35 residen yang menjalani rehabilitasi di tempat tersebut. Dari jumlah itu, 14 orang diketahui kabur dan belum berhasil ditemukan setelah dilakukan pencarian oleh staf yayasan.

Dari 14 residen tersebut, 11 orang merupakan klien rujukan BNN Provinsi Jawa Timur, satu orang dari BNN Kota Surabaya, sedangkan dua lainnya mengikuti rehabilitasi secara sukarela atas inisiatif keluarga.

Masa rehabilitasi mereka bervariasi. Ada yang telah menjalani program selama sekitar empat bulan, dua bulan, satu bulan, hingga ada pula yang baru mengikuti rehabilitasi.

Setelah kejadian, pihak yayasan melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Gubeng. Laporan kemudian diteruskan ke Polrestabes Surabaya. Manajemen juga menghubungi BNN Provinsi Jawa Timur dan menyampaikan surat pemberitahuan kepada BNN Kota Surabaya serta BNN Provinsi Jawa Timur.

Sebagai langkah antisipasi, pihak yayasan meningkatkan pengamanan dengan menambah kamera pengawas atau CCTV serta merekrut dua petugas sekuriti.

Alexander menegaskan, pihaknya tetap berupaya mencari keberadaan para residen dengan berkoordinasi bersama keluarga masing-masing.

“Kami tetap berkomunikasi dengan keluarga. Kalau mereka sudah pulang ke rumah, kami berharap keluarga bisa mengantarkan kembali agar proses rehabilitasi dapat dilanjutkan sampai selesai,” katanya.

Ia mengaku tidak melihat adanya perilaku mencurigakan dari para residen sebelum kejadian. Aktivitas harian mereka, termasuk mengikuti sesi seminar tiga hingga empat kali dalam sehari pada Senin hingga Jumat, disebut masih berjalan seperti biasa.

Terkait kapasitas tempat rehabilitasi? Alexander mengakui pihaknya perlu melakukan evaluasi. Menurut dia, kapasitas 35 residen yang berada di lokasi tersebut juga menjadi perhatian setelah pihak BNN Provinsi Jawa Timur menyampaikan adanya indikasi kelebihan kapasitas.

Sementara itu, mengenai pemenuhan kebutuhan sehari-hari? Alexander memastikan pihaknya menyediakan makanan rumahan sebanyak tiga kali sehari. Yayasan juga mengadakan kegiatan kebersamaan pada malam Minggu, seperti makan bersama dan menonton film.

Terkait perizinan, ia menyatakan yayasan telah menjalankan proses perizinan dan mengantongi akreditasi dari instansi sosial terkait. Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan pengurus RT dan RW setempat sebelum membuka layanan rehabilitasi.

Alexander menambahkan, pihaknya terbuka terhadap masukan warga, termasuk keluhan mengenai kebisingan suara musik. Ia mengklaim keluhan tersebut telah ditindaklanjuti dengan mengatur waktu kegiatan agar tidak mengganggu kenyamanan lingkungan.

“Kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik. Fokus kami saat ini mencari para residen dan mengevaluasi sistem keamanan agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Pos terkait