Mengenal Sosok Syekh Abdullah Mursyad, Wali Sepuh Desa Bakalan Grogol,Pindahan Makam Dari PG Meritjan Kediri

banner 468x60

KEDIRI Kabupaten – GantaraNews.id – Di tengah hiruk pikuk modernitas Kabupaten Kediri, terdapat sebuah oase spiritual yang tak pernah sepi peziarah. Adalah Makam Syekh Abdullah Mursyad yang terletak di Dusun Setono Landean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sosoknya dikenal sebagai cikal bakal penyebaran Islam di tanah Mataraman dan Kediri.

Syekh Abdullah Mursyad bukan sekadar nama. Ia adalah salah satu tokoh kunci Islamisasi di Kediri yang hidup jauh sebelum masifnya peran Walisongo.

Silsilah Keturunan Raja Demak

Berdasarkan kajian jurnal “Islamisasi di Kediri: Tokoh dan Strategi Islamisasi”_ yang dikeluarkan oleh STKIP Pacitan dan penelitian IAIN Kediri, diketahui bahwa Syekh Mursyad memiliki garis keturunan yang mulia.

Bacaan Lainnya

Dari jalur ayah, beliau merupakan keturunan dari Sultan Trenggono, putra Raden Patah, Raja Demak pertama*. Beberapa riwayat lisan lain yang berkembang di masyarakat menyebut beliau masih tersambung hingga *keturunan Prabu Brawijaya V* dari Majapahit, dan ada pula yang menyebut beliau berasal dari Gujarat sebagai pendakwah.

Mengenai masa hidupnya, belum ada tahun pasti. Namun diperkirakan beliau hidup pada masa Demak akhir atau sekitar abad ke XV-XVI Masehi.

Makam Pindahan dari Pabrik Gula Meritjan

Ada fakta unik tentang makam keramat ini. Lokasi makam yang sekarang di Setono Landean ternyata merupakan hasil pemindahan.

Awalnya, makam Syekh Mursyad berada di kawasan Pabrik Gula (PG) Meritjan yang dibangun sebelum tahun 1900. Ketika pembangunan pabrik dilakukan, makam beliau dipindahkan ke lokasi saat ini. Bahkan hingga kini, bekas makam aslinya yang berada tepat di bawah cerobong asap PG Meritjan masih disisakan dan dibuatkan bangunan kecil sebagai petilasan oleh masyarakat.

Jejak historis ini menjadi bukti bahwa keberadaan beliau memang sudah ada jauh sebelum industri gula berdiri di Kediri.

Dakwah Melalui Kesenian Kentrong dan Kisah Maling Gendiri

Sebagai penyebar Islam kuno, strategi dakwah Syekh Mursyad sangat halus dan berbudaya. Beliau berdakwah melalui *kesenian Kentrong*, sebuah kesenian tradisional yang dekat dengan masyarakat kala itu. Dengan seni, ajaran Islam mudah diterima.

Namun nama beliau semakin harum karena sebuah kisah legendaris yang diceritakan turun-temurun oleh KH Mujaddad Faqihudin, pengasuh pesantren di Warujayeng, Nganjuk.

Pada masa itu, Kediri diteror oleh seorang perampok sakti bernama *Maling Gendiri*. Maling ini memiliki ilmu kesaktian bernama *Ilmu Bancolono* yang membuatnya kebal senjata dan bisa menghilang. Dikisahkan, ia pernah merampok perhiasan dan dikejar aparat Hindia Belanda dengan dokarnya, namun ia bisa menghilang bersama dokar tersebut.

Tidak ada pendekar yang mampu mengalahkannya hingga membuat masyarakat resah.

Melihat keresahan itu, Syekh Abdullah Mursyad tergerak hatinya untuk turun tangan. Dengan karomah dan izin Allah, *Syekh Mursyad akhirnya berhasil melumpuhkan kesaktian Maling Gendiri*. Sejak itulah Kediri kembali aman dan kondusif. Masyarakat pun semakin yakin bahwa Syekh Mursyad adalah seorang wali yang alim sekaligus sakti.

Wisata Religi yang Tak Pernah Sepi

Kini, Makam Syekh Abdullah Mursyad dikelola sebagai *destinasi wisata religi dan sarana dakwah Islam*. Setiap hari, terutama pada *malam Jumat Legi*, makam dipadati ratusan peziarah dari berbagai daerah, mulai dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, hingga luar Jawa Timur.

Para peziarah datang dengan niat tawasul, berzikir, dan mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam. Bahkan pihak kepolisian dari Polsek Grogol pun rutin melakukan pengamanan di lokasi saat peziarah ramai.

Syekh Abdullah Mursyad adalah bukti bahwa Kediri memiliki sejarah Islam yang panjang dan dalam, bahkan sebelum era Walisongo. Sosoknya patut untuk terus dikenang dan diziarahi.

Jurnalis : Imam Solikin, SE GANTARANEWS.ID*
Korwil Jatim

Sosok Syekh Abdullah Mursyad, Wali Sepuh Desa Bakalan Grogol,Pindahan Makam Dari PG Meritjan Kediri.

KEDIRI Kabupaten – GantaraNews.id – Di tengah hiruk pikuk modernitas Kabupaten Kediri, terdapat sebuah oase spiritual yang tak pernah sepi peziarah. Adalah Makam Syekh Abdullah Mursyad yang terletak di Dusun Setono Landean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sosoknya dikenal sebagai cikal bakal penyebaran Islam di tanah Mataraman dan Kediri.

Syekh Abdullah Mursyad bukan sekadar nama. Ia adalah salah satu tokoh kunci Islamisasi di Kediri yang hidup jauh sebelum masifnya peran Walisongo.

Silsilah Keturunan Raja Demak

Berdasarkan kajian jurnal “Islamisasi di Kediri: Tokoh dan Strategi Islamisasi”_ yang dikeluarkan oleh STKIP Pacitan dan penelitian IAIN Kediri, diketahui bahwa Syekh Mursyad memiliki garis keturunan yang mulia.

Dari jalur ayah, beliau merupakan keturunan dari Sultan Trenggono, putra Raden Patah, Raja Demak pertama*. Beberapa riwayat lisan lain yang berkembang di masyarakat menyebut beliau masih tersambung hingga *keturunan Prabu Brawijaya V* dari Majapahit, dan ada pula yang menyebut beliau berasal dari Gujarat sebagai pendakwah.

Mengenai masa hidupnya, belum ada tahun pasti. Namun diperkirakan beliau hidup pada masa Demak akhir atau sekitar abad ke XV-XVI Masehi.

Makam Pindahan dari Pabrik Gula Meritjan

Ada fakta unik tentang makam keramat ini. Lokasi makam yang sekarang di Setono Landean ternyata merupakan hasil pemindahan.

Awalnya, makam Syekh Mursyad berada di kawasan Pabrik Gula (PG) Meritjan yang dibangun sebelum tahun 1900. Ketika pembangunan pabrik dilakukan, makam beliau dipindahkan ke lokasi saat ini. Bahkan hingga kini, bekas makam aslinya yang berada tepat di bawah cerobong asap PG Meritjan masih disisakan dan dibuatkan bangunan kecil sebagai petilasan oleh masyarakat.

Jejak historis ini menjadi bukti bahwa keberadaan beliau memang sudah ada jauh sebelum industri gula berdiri di Kediri.

Dakwah Melalui Kesenian Kentrong dan Kisah Maling Gendiri

Sebagai penyebar Islam kuno, strategi dakwah Syekh Mursyad sangat halus dan berbudaya. Beliau berdakwah melalui *kesenian Kentrong*, sebuah kesenian tradisional yang dekat dengan masyarakat kala itu. Dengan seni, ajaran Islam mudah diterima.

Namun nama beliau semakin harum karena sebuah kisah legendaris yang diceritakan turun-temurun oleh KH Mujaddad Faqihudin, pengasuh pesantren di Warujayeng, Nganjuk.

Pada masa itu, Kediri diteror oleh seorang perampok sakti bernama *Maling Gendiri*. Maling ini memiliki ilmu kesaktian bernama *Ilmu Bancolono* yang membuatnya kebal senjata dan bisa menghilang. Dikisahkan, ia pernah merampok perhiasan dan dikejar aparat Hindia Belanda dengan dokarnya, namun ia bisa menghilang bersama dokar tersebut.

Tidak ada pendekar yang mampu mengalahkannya hingga membuat masyarakat resah.

Melihat keresahan itu, Syekh Abdullah Mursyad tergerak hatinya untuk turun tangan. Dengan karomah dan izin Allah, *Syekh Mursyad akhirnya berhasil melumpuhkan kesaktian Maling Gendiri*. Sejak itulah Kediri kembali aman dan kondusif. Masyarakat pun semakin yakin bahwa Syekh Mursyad adalah seorang wali yang alim sekaligus sakti.

Wisata Religi yang Tak Pernah Sepi

Kini, Makam Syekh Abdullah Mursyad dikelola sebagai *destinasi wisata religi dan sarana dakwah Islam*. Setiap hari, terutama pada *malam Jumat Legi*, makam dipadati ratusan peziarah dari berbagai daerah, mulai dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, hingga luar Jawa Timur.

Para peziarah datang dengan niat tawasul, berzikir, dan mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam. Bahkan pihak kepolisian dari Polsek Grogol pun rutin melakukan pengamanan di lokasi saat peziarah ramai.

Syekh Abdullah Mursyad adalah bukti bahwa Kediri memiliki sejarah Islam yang panjang dan dalam, bahkan sebelum era Walisongo. Sosoknya patut untuk terus dikenang dan diziarahi.

Jurnalis : Imam Solikin, SE GANTARANEWS.ID*
Korwil Jatim

Pos terkait