Misteri Kali Brantas dan Jembatan Lama Kediri: Dari Kutukan Cinta Panji-Sekartaji Hingga Kerajaan Buaya Putih Penunggu Jembatan Belanda 1869

banner 468x60

Kediri Kota – GantaraNews.id
Di balik aliran tenangnya, Sungai Brantas yang membelah Kota Kediri menyimpan segudang misteri yang tak lekang oleh zaman. Apalagi di atasnya berdiri kokoh Jembatan Lama Kediri, jembatan besi pertama di Jawa peninggalan Belanda yang usianya sudah 157 tahun.

Dua ikon Kediri ini ternyata saling terkait dalam satu benang merah mistis yang dipercaya masyarakat hingga hari ini.

LARANGAN NIKAH ETAN-KULON: KUTUKAN CINTA KERAJAAN
Mitos paling melegenda adalah larangan menikah antara warga timur (etan) dan barat (kulon) Sungai Brantas. Jika dilanggar, pernikahan tidak akan langgeng.

Konon, ini berawal dari kisah cinta terlarang Raden Panji Asmara Bangun dari Kerajaan Jenggala dan Dewi Sekartaji dari Kerajaan Panjalu. Dua kerajaan yang dipisahkan oleh Sungai Brantas ini sedang berselisih memperebutkan kekuasaan. Cinta mereka tak direstui. Jika tetap nekat, harus melakukan ritual buang ayam cemani di jembatan penghubung.

Bacaan Lainnya

KERAJAAN RATU BUAYA PUTIH DI BAWAH JEMBATAN LAMA
Di bawah Jembatan Lama Kediri inilah pusatnya. Jembatan yang dibangun Belanda mulai September 1859 dan baru selesai 11 Maret 1869 oleh Insinyur Sytze Westerbaan Muurling ini, panjang 160 meter dan lebar 5,8 meter.

Dalam catatan kolonial 1836-1876, pembangunannya selalu gagal karena kendala teknis pemasangan paku bumi di tengah sungai. Pembangunan baru bisa dilanjutkan setelah tumbal manusia dijatuhkan.

Masyarakat meyakini, di bawah jembatan itulah bersemayam Ratu Buaya Putih, penguasa gaib Sungai Brantas. Pada tahun 1009, Mpu Baradah tercatat berulang kali menumbalkan manusia saat memecah Kerajaan Kahuripan menjadi Panjalu dan Jenggala. Hingga kini, jika ada orang tenggelam yang jasadnya tak ditemukan, warga meyakini diambil sebagai tumbal.

Ada juga kisah baiknya di wilayah Kras – Badug Seketi. Dulu buaya putih ini sangat baik hati, jika warga hajatan, ia meminjamkan peralatan dapur seperti piring dan sendok secara gaib. Hubungan ini putus karena keserakahan manusia yang tidak mengembalikan barang pinjaman.

JEMBATAN YANG MASIH BERDIRI, TAPI TAK BOLEH DILINTASI SEMBARANGAN
Saat ini Jembatan Lama sudah tidak berfungsi sejak 2019, digantikan Jembatan Brawijaya Baru yang berdiri tepat di sebelah selatannya. Namun struktur besinya yang asli masih kokoh berdiri dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Kediri.

Mitosnya, jangan melintas sendirian tengah malam, apalagi malam Jumat Kliwon. Sosok tinggi berbaju putih, mata menyala, atau rasa pusing tiba-tiba sering dialami pengendara.

Penutup
Terlepas dari benar atau tidaknya, mitos ini adalah bagian dari kearifan lokal dan sejarah panjang Kediri sebagai tanah para raja. Seperti ramalan Joyoboyo: “Kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange” – sungai kehilangan kedungnya adalah tanda zaman akan berbolak-balik.

Hingga kini, Kali Brantas dan Jembatan Lamanya tetap menjadi saksi bisu, penjaga gaib Kota Kediri.

Penulis : Imam Solikin, SE
Korwil Jatim
Media GantaraNews.id

Pos terkait