Jember, Gantaranews.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa inovasi menjadi kunci untuk menjaga ketahanan sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan Jawa Timur di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan regenerasi petani.
Hal tersebut disampaikan Khofifah dalam sambutan pada Radar Jember (RJ) Awards 2026 bertema “Innovating for Impact” di Hotel Fortuna Grande Jember, Kamis (20/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin hadir mewakili Gubernur Jatim.
Gubernur Khofifah menyebut tema “Innovating for Impact” sangat selaras dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membangun ketahanan pangan dan memperkuat sektor pertanian.
“Tema Innovating for Impact selaras dengan apa yang terus kami perjuangkan di Jawa Timur, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu penopang utama pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam sambutannya, pada 2025 luas panen padi Jawa Timur mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi padi sebanyak 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG).
Produksi tersebut meningkat 12,60 persen dibandingkan 2024. Sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 6,03 juta ton.
“Angka-angka ini menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama pangan nasional,” katanya.
Tantangan Perubahan Iklim
Khofifah mengatakan, ketahanan pangan ke depan tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar produksi pangan yang mampu dihasilkan. Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan serius yang harus diantisipasi melalui pertanian yang lebih adaptif.
Ia menyebut Jawa Timur menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering, dengan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan mengalami sifat hujan di bawah normal selama musim kemarau 2026. Puncak musim kemarau dominan terjadi pada Agustus 2026.
“Bahkan, di sejumlah wilayah Jawa Timur, durasi musim kemarau diprediksi dapat mencapai 22 hingga 24 dasarian. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa tantangan ketahanan pangan ke depan bukan hanya soal seberapa banyak kita mampu memproduksi pangan, tetapi juga seberapa tangguh kita menghadapi perubahan iklim,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Jatim terus mendorong penerapan pertanian adaptif. Langkahnya antara lain melalui pengelolaan air yang lebih efisien, penyesuaian kalender tanam, pemilihan varietas padi berumur pendek dan lebih tahan kekeringan, serta penyesuaian komoditas dari padi ke palawija di wilayah dengan risiko kekeringan lebih tinggi.
“Kita harus memastikan bahwa perubahan iklim tidak menjadi hambatan bagi produktivitas pangan kita, melainkan menjadi pemicu bagi kita untuk melahirkan pertanian yang lebih adaptif dan inovatif,” tegas Khofifah.
Menjaga Lahan, Meningkatkan Produktivitas
Selain perubahan iklim, persoalan lahan juga menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian Jawa Timur. Meski memiliki basis pertanian yang kuat, Jawa Timur menghadapi keterbatasan dan fragmentasi penguasaan lahan.
Khofifah mengungkapkan, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, dari 5,43 juta petani pengguna lahan pertanian di Jawa Timur, sekitar 4,48 juta di antaranya merupakan petani gurem.
Sebagian besar petani tersebut mengelola lahan dengan luas kurang dari 0,5 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pertanian bukan semata-mata menambah luas lahan, tetapi juga meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan petani melalui lahan yang tersedia.
“Karena itu, menjaga lahan pangan produktif, mencegah alih fungsi lahan, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan yang ada, menjadi bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan pangan Jawa Timur,” ujarnya.
Khofifah menegaskan Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi lumbung pangan untuk kebutuhan saat ini, tetapi harus mampu mempertahankan kapasitas tersebut untuk generasi mendatang971 Ribu Petani Milenial
Tantangan berikutnya adalah sumber daya manusia. Menurut Gubernur Khofifah, regenerasi petani menjadi agenda penting untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian Jawa Timur.
Ia menyampaikan bahwa hasil Sensus Pertanian 2023 mencatat Jawa Timur memiliki 971.102 petani milenial. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah modal besar bagi regenerasi petani di Jawa Timur. Kita memiliki ratusan ribu anak muda yang dapat menjadi generasi penerus pertanian,” tutur Khofifah.
Namun, keberadaan petani milenial tersebut harus diikuti dengan transformasi cara pandang terhadap profesi petani. Generasi muda perlu didorong menjadi petani modern yang menguasai teknologi, mampu mengakses pasar, mengolah produk menjadi komoditas bernilai tambah, serta menjadikan pertanian sebagai sektor masa depan yang membanggakan.
Karena itu, modernisasi pertanian dan regenerasi petani menjadi bagian penting dari agenda pembangunan Jawa Timur.
“Kita ingin teknologi hadir di sawah. Inovasi hadir di desa. Dan anak-anak muda memiliki alasan untuk kembali melihat pertanian sebagai ruang untuk berkarya, berinovasi, dan membangun kesejahteraan,” ungkapnya.
Khofifah menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak berhenti pada peningkatan angka produksi. Ketahanan pangan juga berkaitan dengan kemampuan menjaga tanah, beradaptasi terhadap perubahan iklim, memodernisasi teknologi, serta menyiapkan sumber daya manusia.
Semangat tersebut juga mulai ditanamkan sejak dini melalui Program SIKAP atau Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan yang digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Program tersebut mendorong sekolah untuk memanfaatkan lahan yang tersedia agar lebih produktif, antara lain melalui penanaman sayuran, peternakan, maupun pembibitan ikan.
Sekolah-sekolah di Jawa Timur juga didorong mengembangkan kegiatan pertanian, perikanan, peternakan hingga pengolahan hasil pangan sesuai dengan potensi masing-masing daerah.
“Inilah wujud nyata bahwa inovasi dan dampak tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dapat ditanamkan dari ruang-ruang kelas, dari tangan-tangan generasi muda yang kelak akan melanjutkan estafet ketahanan pangan bangsa ini,” kata Khofifah.
Inovasi Berdampak
Khofifah menekankan bahwa inovasi harus diarahkan pada hasil yang dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, berbagai kebijakan di sektor pangan harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani sekaligus memastikan keberlanjutan sektor pertanian.
Sebelumnya, dalam RJ Awards 2026, Khofifah juga menerima penghargaan The Food Security and Agricultural Transformation Visionary Leader atas dedikasi dan kepemimpinannya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui transformasi sektor pertanian dan perkebunan Jawa Timur.
Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Jawa Pos Radar Jember, Dr. Abdul Choliq Baya.
Khofifah menyampaikan penghargaan tersebut sebagai capaian bersama seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, petani, penyuluh, akademisi, serta seluruh elemen masyarakat yang selama ini bahu-membahu memperkuat ketahanan pangan.
“Kita telah membuktikan bahwa inovasi dapat menghasilkan dampak. Dan ke depan, tantangannya adalah memastikan dampak itu tidak hanya kita rasakan hari ini, tetapi juga dirasakan oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Momentum RJ Awards 2026 pun diharapkan menjadi penguat semangat kolaborasi untuk terus melahirkan inovasi yang tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional. (red)












