Menelusuri 12 Gedung Tertua di Kota Kediri: Saksi Bisu 1000 Tahun Peradaban, Dari Kerajaan Kediri Hingga Wali Allah

banner 468x60

Kediri Kota – GanyaraNews.id
Kota Kediri bukan sekadar kota industri rokok. Di balik asap Gudang Garam, tersimpan jejak peradaban 1000 tahun yang masih berdiri kokoh. Dari Masjid Setono Gedong berusia 500 tahun yang berdiri di atas pondasi Candi era Raja Jayabaya, hingga Jembatan Lama Brawijaya 1869 yang menjadi jembatan besi pertama di Pulau Jawa. GantaraNews.id merangkum 12 gedung tertua yang menjadi cagar budaya dan saksi bisu perjalanan Kota Tahu ini. Ironisnya, di tengah kekayaan heritage ini, jantung kota yakni Alun-alun Kota Kediri justru mangkrak 3 tahun. Lantas, apa saja 12 gedung tersebut?

ERA KERAJAAN & WALI – AKAR PERADABAN KEDIRI

1. MASJID SETONO GEDONG – Abad 16 (1500-an) – 500 Tahun – Tertua di Kediri
Inilah bangunan paling tua di Kota Kediri yang masih berfungsi. Masjid Setono Gedong terletak di Jl. Setono Gedong, Kelurahan Setono Gedong, Kecamatan Kota. Keistimewaannya, masjid ini berdiri di atas susunan batu kuno bekas pondasi candi era Kerajaan Kediri (1042-1222 Masehi) pada masa Raja Airlangga hingga Jayabaya.

Bacaan Lainnya

Arsitekturnya adalah Jawa kuno asli joglo dengan 4 soko guru kayu jati raksasa diameter 60 cm yang diperkirakan berusia ratusan tahun, atap 3 tumpuk (tajuk) dari sirap kayu ulin. Di kompleks seluas 2 hektar ini terdapat makam keramat Mbah Wasil, tokoh ulama penyebar Islam di Kediri abad 15, serta makam Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, dan Mbah Fatimah. Hingga kini masih aktif untuk sholat lima waktu dan menjadi destinasi wisata religi utama. Pemerintah Kota telah menetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Kota.

2. KLENTENG TJOE HWIE KIONG – 1711 (315 Tahun)
Klenteng Tionghoa tertua di Kediri, terletak di Jl. Yos Sudarso No. 148, Kota Kediri. Dibangun tahun 1711 oleh perantau suku Hokkian dari Fujian pada era VOC. Klenteng ini menjadi bukti akulturasi Cina-Jawa yang harmonis di Kediri selama 3 abad. Arsitektur Tiongkok kuno masih asli dengan ukiran naga 3 dimensi, lampion merah raksasa, altar kayu cendana, dan 2 patung singa penjaga dari batu granit. Di sinilah komunitas Tionghoa Kediri merayakan Imlek sejak tahun 1712.

ERA KOLONIAL BELANDA – BANGUNAN BESI & INDISCHE EMPIRE

3. JEMBATAN LAMA / BRUG OVER DEN BRANTAS TE KEDIRI – 18 Maret 1869 (157 Tahun)
Ikon kebanggaan Kota Kediri. Jembatan besi pertama di Pulau Jawa dan tertua di Indonesia! Menghubungkan Kota Kediri dan Kabupaten Kediri di atas Sungai Brantas. Dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda 1855-1869 dengan perancang Ir. Sytze Westerbaan Muurling. Sempat mangkrak 5 tahun karena derasnya arus Brantas, akhirnya menggunakan teknologi revolusioner sekrup raksasa untuk pondasi.

Lebih tua 5 tahun dari Jembatan Eads di St. Louis USA (1874) dan hampir seumuran Jembatan Brooklyn New York (1870). Panjang 160 meter, lebar 5,8 meter, tinggi 12 meter dari permukaan sungai. Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada 18 Maret 2019 oleh Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Kini hanya untuk pejalan kaki dan roda 2, menjadi spot foto favorit.

4. STASIUN KEDIRI – 1881 (145 Tahun)
Terletak di Jl. Dhoho No. 70, Kota Kediri. Dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Kolonial. Bergaya Indische Empire dengan atap tinggi, dinding batu bata tebal, dan peron lebar 991 m2. Stasiun tipe C ini menjadi stasiun wajib pemberhentian jalur Kertosono-Blitar. Yang luar biasa, bangunannya masih 95% orisinil, belum pernah renovasi besar, hanya perawatan. Terdaftar sebagai aset Cagar Budaya PT KAI Daop VII Madiun. Masih aktif melayani ribuan penumpang setiap hari.

5. KANTOR POS BESAR KEDIRI – 1907 (119 Tahun)
Berada di Jl. Brawijaya No. 1, tepat di jantung Titik Nol Alun-alun Kota Kediri. Bergaya Art Deco Belanda dengan dinding setebal 40 cm, ornamen geometris di fasad, dan menara kecil. Dulu menjadi pusat komunikasi telegraf dan telepon untuk seluruh Karesidenan Kediri yang meliputi Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek. Di era perjuangan 1945, kantor ini menjadi pusat penyiaran berita proklamasi ke wilayah Kediri.

6. GEREJA MERAH GPIB IMMANUEL – 21 Desember 1904 (122 Tahun)
Gereja tertua di Kota Kediri, terletak di Jl. KDP Slamet 19, kawasan cagar budaya Kota Kediri. Awalnya berwarna putih, diganti merah tahun 1969 dan dipertahankan hingga sekarang. Di dalamnya tersimpan benda cagar budaya berupa Injil kuno berbahasa Belanda terbitan September 1867 yang disimpan dalam kotak kaca. Arsitektur Eropa asli, jendela kaca patri, mimbar kayu jati ukir, dan tangga melingkar masih asli sejak 1904. Tempat ini menjadi saksi penyebaran agama Protestan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Kediri.

7. BALAI KOTA KEDIRI LAMA / GEDUNG DPRD LAMA – 1906 (120 Tahun)
Terletak di Jl. Basuki Rahmat, tepat di depan Alun-alun Kota Kediri. Dulu bernama Kantor Asisten Residen Kediri, pusat pemerintahan Karesidenan Kediri. Bergaya Indis tropis dengan pilar besar setinggi 8 meter, langit-langit 6 meter, dan halaman luas. Kini menjadi kantor DPRD Kota Kediri. Di gedung inilah keputusan penting pembangunan Jembatan Baru Brawijaya dan pengelolaan Gudang Garam dibahas era 1960-an.

8. PENJARA KEDIRI (LAPAS KELAS IIA) – 1908 (118 Tahun)
Terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 28, Kota Kediri. Dibangun Belanda sebagai penjara politik dengan tembok setebal 1 meter dan menara pengawas. Banyak tokoh pergerakan nasional seperti anggota Sarekat Islam dan pejuang 1945 pernah ditahan di sini. Hingga kini masih berfungsi sebagai Lapas Kelas IIA Kediri, namun bangunan depan masih orisinil dan ditetapkan cagar budaya.

ERA 1920-AN – SEKOLAH & RUMAH PEJABAT

9. GEDUNG SMA NEGERI 1 KEDIRI – Maret 1922 (104 Tahun)
Terletak di Jl. Veteran No. 7, Kota Kediri. Dulu bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah untuk anak-anak Belanda dan priyayi Jawa. Bergaya Indis tropis dengan jendela besar, ventilasi tinggi, dan selasar luas. Alumni-nya banyak menjadi pejabat nasional termasuk Menteri dan Jenderal. Bangunannya masih kokoh dan menjadi SMA favorit di Kediri.

10. WISMA KAPOLRES & MARKAS POLRES KEDIRI KOTA – 1910 (116 Tahun)
Kawasan cagar budaya di Jl. KDP Slamet, sebelah Gereja Merah. Dulu rumah dinas perwira KNIL Belanda. Di sebelah selatan gereja berdiri rumah kuno milik Kolonel (Purn) Soerachmad, Komandan Brigade S (Soerachmad) Kediri sekaligus perintis pendirian Kodam se-Indonesia. Wisma Kapolres dan Markas Polres Kediri Kota juga merupakan cagar budaya dengan arsitektur rumah dinas kolonial.

11. GEDUNG SMPN 1 KEDIRI – 1925 (101 Tahun)
Terletak di Jl. Veteran, bersebelahan dengan SMAN 1. Bekas HIS (Hollandsch-Inlandsche School) untuk anak pribumi. Menjadi salah satu sekolah tertua di Kediri yang masih mempertahankan bangunan asli dengan atap genteng merah dan dinding kapur.

12. GUDANG GARAM UNIT 1 (SEMAMPIR) – 26 Juni 1958 (67 Tahun)
Terletak di Jl. Semampir II/1, Kediri. Lahan awal hanya 1000 m2 milik Surya Wonowidjojo. Dari gudang sederhana inilah lahir kerajaan kretek terbesar di Indonesia. Bangunan pertama dengan karung-karung tembakau masih dipertahankan sebagai museum internal perusahaan. Menjadi simbol kebangkitan ekonomi Kediri era modern.

PENUTUP – PESAN UNTUK TITIK NOL:
Dua belas gedung di atas adalah bukti bahwa Kediri adalah kota yang menghargai sejarah. Mereka bertahan ratusan tahun karena dirawat. Lalu bagaimana dengan Alun-alun Kota Kediri yang menjadi Titik Nol Jantung Kota? Sudah 3 tahun mangkrak, berpagar seng berkarat, ditumbuhi ilalang. Padahal alun-alun adalah tempat berkumpulnya rakyat, tempat PKL mengais rezeki, tempat anak-anak bermain.

GantaraNews.id Korwil Jatim Imam Solikin SE meminta Pemerintah Kota Kediri untuk segera mengembalikan fungsi alun-alun. Jangan biarkan jantung kota mati, sementara 12 cagar budaya di sekelilingnya tetap hidup.

Mari jelajahi Kediri dengan Heritage Walk 5 KM, start dari Alun-alun yang kita cintai.

Jurnalis. : Imam Solikin.SE
Media. :GantaraNews.id

Pos terkait