Surabaya, Gantaranews.id – Kasus penahanan ijazah akhir akhir ini lagi viral, dan menyita perhatian masyarakat. Satu kasus lagi di Surabaya, ijazah karyawan ditahan oleh perusahaan karena bermacam alasan.
Fristiono(40), mantankaryawan KSP Nasari Surabaya, merupakan korban penahanan ijazah. Bahkan tidak tanggung tanggung KSP tempatnya dia bekerja menahan ijazah S1 nya. Dari pengakuan Fristanto bukan hanya ijazah yang di tahan, namun gajinya pun juga belum dibayarkan.
Menanggapi kasus Fristiono, Taufik Monyong yang merupakan exponen 98 kembali bersuara keras, menurutnya apa yang terjadi akhir akhir ini di Surabaya mengenai penahanan ijazah merupakan gambaran ketidak mampuan dan kebodohan pemerintah kota Surabaya.
“Belum selesai kasus CV Sentosa Seal, sekarang KSP Nasari dan pasti masih banyak lagi perusahaan perusahaan kecil di Surabaya ini menahan ijazah karyawannya. Ini bukti pemerintah kota itu lemah dan hanya mementingkan panggung sendiri sendiri, hal itu sangat terlihat jelas sekali antara walikotanya dengan wakilnya,” ujar monyong berapi api.
“Laporkan KSP Nasari itu ke Kepolisian, Eri Cahyadi (Walikota Surabaya), atau Armuji (Wakil Walikota). Suruh mereka bertindak, kalau perlu segel jika terbukti bukan sok keras apabila didepan wartawan saat meliput, ” tambahnya.
Masih Taufik Monyong, ketika disinggung bahwa Fristanto sudah melaporkan kasus ini ke Polres Surabaya, yang sebelumnya dia mengemis ngemis dan mendatangi KSP Nasari dengan baik baik, namun tidak ada respon dari KSP. Dengan senyum khas nya monyong mengatakan itulah hebatnya perusahaan yang ada di Surabaya, yang dengan sengaja berani bahkan mungkin meremehkan pemerintahan
“Ya kalau memang sudah melapor dan tidak ada tindakan, kalau perlu arahnya ke penggalangan masa. Kita demo pemerintahan dan kita datangi KSP, agar Disnaker ya bertindak. Saya yang akan kerahkan masa dengan elemen masyarakat lain, biar tahu bagaimana marahnya rakyat bawah,” ujarnya.
“Kalau pemerintah kota tidak berani menyegel perusahaan yang nakal terhadap karyawannya, maka rakyat sendiri yang menyegelnya meskipun hal itu tidak mudah karena akan benturan dengan aparat keamanan. Saya yang akan memimpin langsung,” tambahnya
Sebagai penutup, menurut Monyong kondisi perlindungan karyawan atau buruh di Surabaya ini sungguh sangat ironis, dan seperti kasus ijazah, praktik ini sebenarnya sudah lama dan pemerintah kota buta. Jika ada pertiwanya mencuat justru dijadikan ajang panggung semata. Sampai berita ini dinaikan, pihak KSP Nasari belum memberi jawaban meskipun sudah dikonfirmasi melalui pesan maupun sambungan telp WhatsAppp. (Why)







