Dokter Stef dan Misi Besar dari Malaka: Membangun Layanan Kesehatan dari Pinggiran Negeri

banner 468x60

MALAKA – Di banyak daerah Indonesia, persoalan kesehatan sering berhenti pada satu keluhan klasik: kurang dokter, minim fasilitas, dan keterbatasan tenaga medis terlatih.

Namun di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, MPH atau yang akrab disapa Dokter Stef, mencoba melihat persoalan itu dari sudut yang berbeda.

Baginya, membangun kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan gedung rumah sakit atau menambah alat medis. Yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas manusianya.

Karena itulah saat membuka kegiatan Symposium dan Workshop RSUPP Betun 2026, Dokter Stef langsung melontarkan gagasan yang cukup progresif untuk ukuran daerah perbatasan: pelatihan dan penguatan ilmu kesehatan harus dilaksanakan minimal dua kali dalam setahun.

Bacaan Lainnya

“Setahun dua kali dan direncanakan dengan baik,” tegasnya di hadapan peserta symposium di Kota Betun.

Pernyataan itu bukan sekadar sambutan seremonial seorang kepala daerah. Di balik gagasan tersebut tersimpan cara pandang yang lebih besar tentang masa depan pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan Indonesia.

Sebagai seorang dokter yang kini memimpin pemerintahan daerah, Stefanus Bria Seran memahami bahwa ilmu kesehatan berkembang sangat cepat.

Metode penanganan pasien, teknologi medis, hingga standar pelayanan kesehatan terus berubah dari waktu ke waktu.

Tanpa peningkatan kompetensi yang berkelanjutan, tenaga kesehatan di daerah akan tertinggal.

Karena itu, ia mendorong agar kegiatan ilmiah seperti symposium tidak berhenti menjadi agenda tahunan semata, melainkan berkembang menjadi kursus rutin penyegaran ilmu kesehatan bagi dokter, perawat, bidan, dan seluruh profesi medis lainnya.

“Bukan hanya simposium, tetapi kursus penambah dan penyegaran ilmu kesehatan, ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu kebidanan, dan ilmu kesehatan lainnya,” ujarnya.

Di daerah seperti Malaka, yang berada di wilayah perbatasan RI–Timor Leste, tantangan layanan kesehatan memang tidak sederhana.

Tenaga kesehatan sering bekerja dalam keterbatasan fasilitas, akses, hingga distribusi dokter spesialis yang belum merata.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan individu tenaga medis menjadi faktor penentu keselamatan pasien.

Dokter Stef tampaknya menyadari bahwa investasi terbesar sektor kesehatan bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun kapasitas sumber daya manusia.

Karena itu, ia memberikan perhatian serius terhadap forum-forum ilmiah yang digagas Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan (RSUPP) Betun.

Kegiatan symposium dan workshop yang digelar rumah sakit tersebut menghadirkan dokter spesialis, tenaga kesehatan, bidan, dan perawat dalam satu ruang pembelajaran bersama.

Bagi Pemerintah Kabupaten Malaka, forum seperti ini bukan hanya tempat berbagi teori, melainkan ruang pembentukan kualitas pelayanan kesehatan masa depan.

Apalagi kegiatan tersebut tidak berhenti di ruang seminar. Para peserta juga mengikuti praktik langsung atau hands on terkait penanganan kegawatdaruratan, teknik medis terbaru, hingga keterampilan klinis yang dibutuhkan dalam pelayanan sehari-hari.

Dokter Stef bahkan mengaku terkesan dengan tingginya antusiasme peserta.

“Pesertanya banyak sekali dan mereka harus terus upgrade ilmu. Mereka harus terus belajar,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang cukup khas dari Stefanus Bria Seran.

Sebagai kepala daerah berlatar belakang dokter, ia tidak sekadar berbicara soal administrasi kesehatan, tetapi masuk langsung pada substansi peningkatan mutu pelayanan medis.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan memang menjadi salah satu fokus penting pembangunan di Kabupaten Malaka. Mulai dari penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan pelayanan rumah sakit, hingga pengembangan kualitas tenaga medis terus didorong agar masyarakat di wilayah perbatasan mendapat pelayanan yang semakin layak.

Langkah mendorong pelatihan kesehatan dua kali setahun menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai bergerak ke arah pembangunan kesehatan berbasis kualitas dan pembelajaran berkelanjutan.

Di tengah ketimpangan layanan kesehatan nasional yang masih terasa antara kota besar dan daerah pinggiran, gagasan seperti ini menjadi penting.

Sebab kemajuan layanan kesehatan tidak selalu lahir dari daerah dengan anggaran besar, tetapi dari keberanian membangun budaya belajar secara konsisten.

Dari sebuah wilayah di selatan Nusa Tenggara Timur, Dokter Stef sedang mencoba mengirim pesan bahwa daerah perbatasan pun bisa bergerak maju jika ilmu pengetahuan dijadikan fondasi utama pembangunan kesehatan.

Dan bagi Malaka, membangun kesehatan tampaknya bukan hanya soal menyembuhkan orang sakit, tetapi tentang membangun manusia yang siap melayani dengan ilmu yang terus diperbarui. (yd)

Pos terkait