Foto di unggah 18/11/24 by is Pagelaran Wayang Kulit di Mapolda Jatim, Upaya Pelestarian Budaya di Tengah Modernisasi
Gantaranews.id Surabaya, 16 November 2024 – Dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Brimob Polri ke-79 dan Korps Polairud Polri ke- 74, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menggelar pagelaran wayang kulit di Lapangan Apel Mapolda Jatim. Acara ini menampilkan lakon “Gatot Kaca Kelana Jaya” oleh Ki Dalang Cahyo Kuntadi dari Karanganyar, Jawa Tengah.
Kegiatan ini menjadi sorotan karena menampilkan seni tradisional Indonesia di tengah kemajuan era digital. Pagelaran wayang kulit yang sarat makna ini sekaligus menjadi bentuk komitmen Polda Jatim dalam melestarikan budaya lokal.Wayang Kulit: Warisan Budaya yang Tetap Relevan
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Drs. Imam Sugianto, M.Si, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa seni tradisional seperti wayang kulit harus terus dijaga agar tidak tergilas modernisasi.
Wayang kulit bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai luhur, seperti keberanian, keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah pesan penting yang harus kita lestarikan,” ujar Kapolda.
Lakon “Gatot Kaca Kelana Jaya” dipilih untuk menggambarkan semangat perjuangan dan pengabdian tanpa pamrih, nilai-nilai yang juga melekat pada tugas anggota Brimob dan Polairud dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat.Menguatkan Hubungan Polri dan Masyarakat
Pagelaran wayang kulit ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh budaya, pemuda, hingga keluarga besar Polri. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan Polri dengan masyarakat.
Kami ingin menunjukkan bahwa Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga peduli terhadap budaya yang menjadi identitas bangsa,” jelas Kapolda.Budaya di Tengah Modernisasi
Kapolda menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan teknologi. Seni tradisional seperti wayang kulit memiliki potensi besar untuk tetap relevan jika dikemas secara menarik bagi generasi muda.
Modernisasi memang membawa perubahan besar, tetapi nilai-nilai budaya lokal seperti yang diajarkan melalui wayang kulit harus tetap hidup dan diwariskan ke generasi mendatang,” tambahnya.
Semangat Gatot Kaca untuk Polri tokoh Gatot Kaca dalam cerita wayang menjadi simbol keberanian, ketangguhan, dan pengabdian. Kapolda menyampaikan bahwa semangat ini selaras dengan tugas Korps Brimob dan Polairud yang senantiasa siap siaga menghadapi berbagai tantangan.
Seperti Gatot Kaca yang tidak pernah mundur dalam menghadapi rintangan, Polri juga dituntut untuk selalu profesional dan berkomitmen menjaga keamanan dan kedamaian masyarakat,” kata Kapolda.
Kolaborasi untuk Masa Depan pagelaran ini juga menjadi ajang untuk memperkuat kolaborasi antara Polri, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga budaya lokal. Selain itu, acara ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk mencintai seni tradisional Indonesia.Pelestarian Budaya sebagai Identitas Bangsa
Melalui kegiatan seperti ini, Polda Jatim ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah bagian penting dari pembangunan karakter bangsa. Dengan menyelaraskan tradisi dan modernisasi, seni seperti wayang kulit dapat tetap hidup dan relevan di era globalisasi.
Kita harus menjaga budaya sebagai identitas bangsa, sehingga Indonesia tetap memiliki karakter kuat di tengah arus globalisasi,” tutup Kapolda.
Pagelaran wayang kulit di Mapolda Jatim menjadi bukti bahwa tradisi dan kemajuan dapat berjalan beriringan. Melalui seni, Polri dan masyarakat bersama-sama menjaga warisan budaya sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.(Is)







