Surabaya, Gantaranews.id – Seorang siswi yatim yang duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, harus mengalami trauma dan malu untuk bersekolah lagi akibat sikap arogan dari pihak sekolah.
Sebut saja (ZN), seorang anak yatim sejak umur satu tahun ditinggal ayahnya meninggal dunia, saat ini ZN bersekolah di SDI Nurul Iman, Jalan Sememi Jaya IV/5 Surabaya. Bermula ketika ujian STS (Sumatif Tengah Semester) dua. Ketika teman sekelas nya dengan semangat mengerjakan soal ujian, hanya ZN yang diam membatu tanpa tahu apa yang dia lakukan karena dirinya tidak diperbolehkan ikut ujian dan cukup sebagai penonton.
Betapa hancur hati ZN terlebih lagi seorang guru membisikan ke telinga ZN bahwa orang tua ZN belum membayar tunggakan sekola, jadi ZN tidak boleh ikut ujian. ZN tidak disuruh pulang, dia harus tetap dikelas seakan akan dia harus menanggung beban malu karena orang tuanya tidak mampu. Dia harus rela jadi tontonan atau contoh siswa lain kalau orang tuanya nunggak bayar disekolah.
Ketika awak media menemui ZN dan orang tuanya, nampak sekali raut ZN atas trauma yang dia alami di sekolahannya. Ketika ditanya besok sekolah ya, ZN menjawab dengan polos, “takut tidak boleh ikut ujian lagi, dan malu sama teman teman,” ujarnya
Sedangkan orang tua ZN sendiri mengakui saat ini dirinya sedang membujuk ZN untuk bersekolah, tetapi sang anak tetap masih kekeh tidak mau sekolah.
Dari penuturan ornagbtua ZN, yang lebih mengejutkan lagi adalah, tunggakan tersebut bukan dari SPP yang hanya 60 ribu rupiah. Tetapi dari buku yang tiba tiba diberikan kepada siswa dan orang tua wajib membelinya, entah itu buku paket maupun LKS yang nominalnya hampir satu juta rupiah.
“Ketika daftar ulang saya membayar 350 ribu dan anak saya mendapat beberapa buku, tidak berselang lama pihak sekolah memberi buku lagi yang totalnya 800 ribu rupiah dan itu bisa dicicil,” ujar orang tua ZN.
“Tetapi kenyataan nya pihak sekolah menagih dengan keras dengan alasan bahwa pihak sekolah juga di tagih oleh distributor buku tersebut,” tambahnya.
Ketika ditanya apakah SDI Nurul Iman mengetahui kalau ZN merupakan anak Yatim, dan apakah ZN mendapat dispensasi. “Sejak awal pihak sekolah SDI Nurul Iman mengetahui jika ZN itu anak yatim, bahkan surat kematian ayah ZN sudah saya serahkan ketika pihak sekolah memintanya,” ujar orang tua ZN.
“Ya bukan saya meminta keringanan atau belas kasihan, saya hanya meminta waktu hanya itu,” tambahnya.
Sampai berita ini dinaikan pihak SDI Nurul Iman belum bisa dikonfirmasi, hanya pesan Voice Note lewat WA antara Wali Kelas dan Guru kepada orang tua ZN yang berbunyi “wali kelas dan guru Tidka tahu apa apa perihal itu, semua itu kewenangan Kepala Sekolah dan TU guru hanya menjalankan tugas perintah,”. (Why)







