Surabaya Bukan Panggung Pertunjukan Untuk Sengkuni dan Artis Picisan

banner 468x60

Penulis : W Indrawan ( jurnalis Gantaranews id))

Surabaya, gantaranews.id – Gaung permasalahan ormas masih saja terdengar santer, keadaan bukan mereda melainkan semakin ricuh, sehingga kondisi saat ini justru rawan mengarah menjadi konflik horizontal antar masyarakat.(08/01/2026)

Kenapa permasalahan ini semakin panjang bahkan bisa dikatakan berepisode ?, padahal sebenarnya kejadian serupa juga sering terjadi pada waktu dulu, bahkan hampir di seluruh kota di Indonesia. Seperti contohnya, mulai rebutan lahan parkir, penjagaan sengketa lahan, pengerahan masa untuk eksekusi tanah maupun bangunan dan banyak lagi bukankah semua contoh itu juga mengganggu kenyamanan dan ketentraman kota ?.

Melihat kasus MADAS yang semakin panjang bak sinetron atau film ber skuel, boleh kah kita bertanya mungkin kah ada Sengkuni yang bisik sana sini, ngompori, menghasut, agar tontonan ini menjadi panjang syukur syukur menjadi konflik horizontal berkepanjangan seperti konflik didaerah luar pulau yang pernah terjadi dengan stigma pendatang versus warga asli (penduduk asli).

Bacaan Lainnya

Sebenarnya bukan ini yang diinginkan masyarakat, bukan sebuah tontonan atau dagelan receh dan garing meski sempat awal awalnya membuat masyarakat terhibur. Dan berpaling sebentar dari rasa penat dalam urusan bertahan hidup yang harus berhadapan dengan sistem, yang telah dimodifikasi sedemikian rupa oleh beberapa orang.

Konflik itu vertikal bukan malah horizontal, agar garis vertikal sama lurusnya dengan garis horizontal, bawa kepentingan masyarakat, kesusahan masyarakat, atau ketidak adilan yang menimpa masyarakat biar didengar pemimpin ataupun para elit di kota Surabaya ini. Yang mungkin saat ini mereka lagi pesta barbeque, sambil berjoget joget. Bukan terus kita malah gaduh sendiri bingung menjalani alur cerita sesuai pesanan dari para pemesan.

Sebenarnya siapa yang bermain di konflik ini, dan keuntungan apa yang didapat dari konflik yang sekarang ini terjadi, ?

Apa kita lupa bahwa konflik di akar rumput merupakan bahan bakar para penguasa ?, entah itu menjadi panggung atau menjadi jeda waktu agar bisa lolos dari sorotan atas prilaku dan kegagalan bahkan bagi yang terkena kasus besar, dengan berpura pura turun karena sudah menjadi tanggung jawab seorang pemimpin, dengan begitu mungkin bisa sedikit menjadi obat bagi masyarakat yang lagi sesak nafas karena berbagai kesulitan yang dihadapinya.

Atau peristiwa ini suatu isue yang dibesarkan, agar menjadi pengalihan isue atar suatu peristiwa yang multi besar dan harus ditutupi, agar tidak diketahui masyarakat. Mungkin akan muncul kebijakan baru yang sedikit menggencet masyarakat bawah, atau suatu kasus korupsi dari hasil kongkalikong antara koruptor dengan pemerintah ?, Tapi semua itu kan dugaan semata kita hanya berdoa agar semuai itu tidak benar.

Lalu apa yang harus dilakukan agar menjadi solusi dan pertunjukan ini bubar ?, bukankah duduk satu meja mediasi dan rujuk sudah pernah ?, terus apa lagi. Mungkin sebuah tontonan simple yang bisa merubah para lakon di pertunjukan ini segera mengakhiri nya, yaitu tontonan bagaimana masyarakat tertindas, bagaimana kesulitan semakin melanda, bagaimana ketidak Adilan makin seronok terjadi. Dengan begitu mungkin bisa meluruskan saraf saraf otak para lakon dikonflik ini, yang awalnya sempat bengkok. Tak perlu lagi mendengar Sengkuni, kembali lah turun kejalan menjadi satu barisan yang besar, bukan malah menjadi pecahan.

Tuntut para pemimpin agar lebih fokus akan kesejahteraan masyarakat Surabaya , tuntut keadilan. Akhiri dagelan ini yang receh dan garing ini serta tidak perlu mengajak para pemimpin itu ikut memerankan menjadi lakon, jika mereka memaksa naik DNA minta panggung perlu kita jawab

“Sudah tidak ada panggung buat bapak, pentas pertunjukan sudah selesai pak, dan kami bisa mengakhiri pertunjukan ini dengan damai tanpa bapak. Cukup bapak fokus ke kesejahteraan masyarakat aja, kalau emang ada uang masyarakat surabaya yang keselip di saku bapak cepat kembalikan. Atau kami yang akan bersatu untuk membuat perhitungan dan menyeret serta mendudukan bapak di kursi pesakitan, karena kami adalah rakyat, ingat suara rakyat adalah suara Tuhan,”.

Pos terkait