Unair Banyuwangi Siapkan Dokter Ahli Travel Medicine

banner 468x60

Visualisasi Dokter Travel Medicine

 

Gantaranews.id Banyuwangi, –03 Maret 2025 Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi terus berinovasi dalam dunia pendidikan kedokteran dengan menyiapkan dokter ahli di bidang Travel Medicine.

Program ini ditujukan bagi para dokter yang ingin mendalami kesehatan wisatawan, baik sebelum, selama, maupun setelah perjalanan.

Bacaan Lainnya

Ketua Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Unair Banyuwangi, dr. Muhammad Nazmuddin, MSc, menjelaskan bahwa Travel Medicine menjadi bidang yang semakin penting, terutama di era globalisasi dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Dokter yang memiliki keahlian di bidang ini dapat bekerja di berbagai sektor, seperti klinik khusus vaksinasi perjalanan, rumah sakit dengan layanan kesehatan perjalanan, atau menjadi bagian dari tim medis di kapal pesiar, maskapai penerbangan, hingga layanan kesehatan haji dan umroh,” jelas dr. Nazmuddin pada Senin .

Peluang Karir Luas

Selain bertugas dalam layanan kesehatan perjalanan, dokter dengan spesialisasi Travel Medicine juga berperan penting dalam pengawasan penyakit menular di titik-titik keberangkatan dan kedatangan, seperti di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Mereka bertugas melakukan skrining kesehatan, vaksinasi, hingga pengendalian wabah di area bandara dan pelabuhan internasional.

Bagi calon dokter yang ingin menjadikan perjalanan sebagai bagian dari profesi mereka sekaligus berkontribusi dalam kesehatan global, Travel Medicine adalah pilihan karir yang menarik dan penuh tantangan,” tambahnya.

Peluang Studi dan Riset

Tidak hanya menawarkan jalur karir yang menjanjikan, bidang Travel Medicine juga membuka kesempatan luas untuk studi lanjut dan riset.

Para dokter dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang master atau doktoral dalam Travel Medicine atau Tropical Medicine.

Sertifikasi internasional seperti Certificate in Travel Health (CTH) dari International Society of Travel Medicine (ISTM) juga dapat meningkatkan kredibilitas dokter dalam bidang ini.

Selain itu, terdapat spesialisasi lain seperti Aviation Medicine dan Maritime Medicine, yang memungkinkan dokter untuk bekerja di industri penerbangan atau kelautan.

Beberapa tantangan dalam Travel Medicine antara lain penyakit infeksi yang dibawa wisatawan, seperti malaria, demam berdarah, dan tuberkulosis.

Selain itu, dampak perjalanan jarak jauh seperti jet lag dan deep vein thrombosis juga menjadi perhatian,” ujar dr. Nazmuddin.

Unair Banyuwangi berkomitmen untuk terus mengembangkan program ini dengan dukungan tenaga pengajar yang berpengalaman di bidang kedokteran tropis, epidemiologi, serta medis darurat.

Selain itu, kerja sama dengan sektor pariwisata akan semakin memperkuat implementasi layanan kesehatan perjalanan di Indonesia.(Gan/bgs)

Pos terkait