RSUD Soewandhie Surabaya Hadapi Insiden Anarkis di IGD Akibat Ketidakpuasan Keluarga Pasien

banner 468x60

Foto di unggah RSUD Soewandhie Surabaya Hadapi Insiden Anarkis di IGD Akibat Ketidakpuasan Keluarga Pasien 04/11/24 by wati

Gantaranews.id Surabaya – RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya baru-baru ini menghadapi insiden anarkis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah adanya ketidakpuasan dari pihak keluarga pasien

terhadap penanganan medis yang diberikan. Kejadian ini berawal dari kedatangan seorang pasien yang mengalami komplikasi akibat diabetes dalam kondisi tidak sadar.

Sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP), tim medis langsung melakukan tindakan cepat dengan memberikan obat penurun gula darah, yang berhasil menurunkan kadar gula pasien dari 335 mg/dL menjadi 105 mg/dL.Namun, meski kadar gula darah pasien sudah stabil, kondisi umum pasien masih belum membaik hingga keesokan harinya.

Bacaan Lainnya

Situasi ini membuat tim medis memutuskan untuk tidak merujuk pasien ke rumah sakit lain dan tetap melakukan observasi serta terapi intensif di RSUD Soewandhie.

Pada 31 Oktober, dokter yang menangani pasien telah menjelaskan kepada keluarga mengenai kondisi dan langkah-langkah medis yang telah dilakukan. Sayangnya, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredakan ketidakpuasan keluarga yang merasa penanganan medis belum membawa perubahan signifikan.

Ketegangan memuncak ketika pihak keluarga melibatkan organisasi masyarakat (ormas) dalam upaya menyuarakan ketidakpuasan mereka. Massa ormas mendatangi rumah sakit dan menerobos area IGD,

mengakibatkan gangguan operasional. Meskipun tidak ada kekerasan fisik terhadap tenaga medis, tindakan ini menyebabkan kerusakan kecil dan dianggap melanggar protokol keamanan rumah sakit.

Menanggapi insiden ini, dokter Billy selaku perwakilan RSUD Soewandhie menegaskan bahwa seluruh tindakan medis yang diambil telah sesuai dengan SOP.

Ia juga menyampaikan bahwa audiensi antara perwakilan ormas, pihak rumah sakit, dan pemerintah kota Surabaya telah dilaksanakan untuk mencari solusi damai. Dalam audiensi tersebut, pihak ormas menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang terjadi.

Sebagai langkah preventif, dokter Billy menyatakan komitmennya

untuk meningkatkan sistem keamanan di IGD dan memperkuat komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat. Ia juga mengusulkan adanya dialog terbuka untuk masyarakat yang merasa tidak puas dengan layanan rumah sakit serta rencana untuk memperluas fasilitas IGD agar dapat menangani pasien dengan lebih optimal.

Insiden ini menyoroti pentingnya kerja sama antara rumah sakit, masyarakat, dan pemerintah untuk memastikan kualitas layanan kesehatan yang aman serta kondusif bagi semua pihak.

Kematian pasien tersebut, meskipun telah ditangani sesuai protokol medis, menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi dalam memberikan layanan medis yang memadai dan responsif di tengah tekanan dan harapan masyarakat.(Wati)

Pos terkait