Ageng Gantara Hadiri Halal Bihalal Keluarga Kesultanan Kasepuhan Banten di Pamijahan Plumbon Cirebon

banner 468x60

Keterangan : Ageng Gantara yang memakai blangkon jas hitam

 

Indramayu, Gantaranew.id – Halal bihalal adalah sebuah adat istiadat dan budaya atau tradisi pertemuan keluarga atau kelompok masyarakat tertentu untuk bermaaf-maafan setelah lebaran. Tidak terkecuali keluarga besar Kesultanan Kasepuhan Banten dari jalur anak keturunan salah seorang sesepuh Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon yang di era perang VOC Inggris dengan Belanda pertama di tanah Jawa tahun 1808-1811 an yang bernama Eyang Buyut Musminah putra dari Eyang Tubagus Mu’allama. Ribuan anak keturunan Eyang Musminah Bin Eyang Tubagus Mu’allama yang tersebar di berbagai kota bahkan beberapa negara lain sebagai bagian dari keluarga besar Kesultanan Kasepuhan Banten selama lebih kurang 50 tahun belakangan terus menggelar secara rutin silaturahmi antar keluarga agar persatuan dan kesatuan para penerus pakem adat keluarga kerajaan sebagai persekutuan hukum yang ada di negeri ini sebelum sistem demokrasi Pancasila yang diberlakukan sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 silam oleh Paduka Presiden Soekarno tetap terjaga.

Do’a bersama di pemakaman Eyang Kyai Musminah dan Eyang Nyai ‘Afiyah yang dilanjutkan dengan sarasehan di hari ke 9 bulan Syawal yang bertepatan dengan hari Ahad tanggal 29 Maret 2026 bertempat di Musholla Hidayatul Muttaqin Blok Keputon Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon berlangsung penuh khidmat dan suka cita sambil menumpahkan kerinduan dengan sanak saudara serta karib kerabat yang terpisah jarak selama satu tahun dengan aktivitasnya masing-masing. DR. KH. Arwani Syaerozie, Lc., MA., sebagai salah satu pembicara yang mewakili anak keturunan Eyang Kyai Musminah dari jalur Eyang Kyai Ma’sum dan Eyang Nyai Qudsiyyah Kalisapu Gunung Jati Cirebon menyampaikan akan terus menelusuri semua putra wayah yang sampai hari ini belum mengikuti silaturahmi tahunan di Blok Keputon Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon Cirebon sebagai salah satu tanah leluhur Kesultanan Kasepuhan Banten di Cirebon sejak permulaan abad ke 19 silam. Beliau juga menyampaikan para putra wayah Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Millenial telah diperintahkan untuk menelusuri keberadaan para putra wayah tersebut, ujarnya berseloroh ditengah sambutannya. Acara utama selain do’a bersama siang itu dilanjutkan dengan tausiah oleh KH. Azka Hammam Syaerozie, Lc., putra dari almarhum almaghfurlah Rama KH Syaerozie Abdurrohim sekaligus kakak dari DR. KH., Arwani Syaerozie, Lc., MA., untuk menyampaikan pelajaran serta hikmah dari agenda rutin tahunan seperti ini untuk kebaikan hidup manusia khususnya kita semua sebagai penerus ajaran luhur yang dilakukan oleh orang tua kita dimasa lalu. Karena dengan menjalankan atau mengamalkan ajaran tersebut in syaa Allah semua anak keturunan Eyang Kyai Musminah bisa seperti beliau yang ratusan tahun silam hidup hingga saat ini tetap diingat oleh anak keturunannya.

Bacaan Lainnya

Asep Syaefullah, SH., atau yang biasa dikenal oleh para putra wayah raja sultan se Nusantara dengan nama Ageng Gantara, Advokat pendiri sekaligus Ketua Umum Ormas Garda Taruna Nusantara (Gantara) sebagai Organisasi Kemasyarakatan Nasional bidang bantuan hukum dan pemberdayaan masyarakat bersama keluarganya turut serta hadir dalam acara tersebut. Kepada wartawan Gantaranews.id ia menyampaikan bahwa perkumpulan seperti ini, kebersamaan ribuan masyarakat yang terikat secara genealogi di era sekarang sudah sangat langka karena kebiasaan masyarakat sekarang yang cenderung pragmatis atau tergerak jika ada manfaat yang didapat hingga jalinan kebersamaan dalam satu keluarga yang melintasi beberapa generasi akhirnya diabaikan. Ternyata keluarga kami sampai hari ini tetap kokoh membangun silaturahmi antar keluarga sebagai salah satu tali kasih sayang Allah untuk hamba-hamba-Nya, ujarnya. Semoga kebersamaan seperti ini bisa mendorong keluarga lain untuk menggelar agenda serupa agar persatuan dan kesatuan semua elemen masyarakat penyusun bangsa ini semakin kokoh yang pada gilirannya kelak mengokohkan kedaulatan negeri ini dimasa yang akan datang, 19 tahun menjelang Nusantara Emas 2045 Indonesia Pusat Imperium Penguasa Dunia, aamiin, ucapnya menutup pembicaraan. (Sep(

Pos terkait