Surabaya, gantaranews.id – Kamis 12 Februari 2026 . Surabaya sejak lama dikenal sebagai kota pelabuhan yang menjadi titik temu berbagai peradaban. Keberadaan komunitas Arab dan Tionghoa telah tercatat sejak abad ke-18, ditandai dengan kawasan bersejarah seperti Ampel sebagai pusat budaya Arab-Islam dan Kya-Kya Kembang Jepun sebagai jejak kuat permukiman Tionghoa. Kedua budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi berasimilasi secara alami dalam kehidupan sosial masyarakat Surabaya, mulai dari tradisi keagamaan, perdagangan, hingga kuliner yang kini menjadi bagian dari identitas kota. Hidangan berbumbu rempah khas Arab dan teknik masak Chinese yang kuat rasa umami telah lama hadir di meja makan warga Surabaya, menjadikan perpaduan budaya ini terasa akrab, hidup, dan relevan hingga hari ini.
Ragam intuisi cross-cultural tersebut kembali diunggah oleh Crown Prince Hotel Surabaya di Avallon Restaurant pada Rabu sore, 12 Februari 2026. Perlahan ruangan dipenuhi suasana hangat kebersamaan, aroma rempah, hidangan oriental, dan nuansa silaturahmi menyatu dalam Gathering Iftar Ramadhan 2026 yang diselenggarakan Crown Prince Hotel dengan tema “Oriental Ramadhan.”
Tema ini bukan sekadar konsep kuliner, melainkan cerminan wajah Surabaya sebagai kota dengan akulturasi budaya yang kuat. Budaya Arab dan Tionghoa, yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat lokal, diangkat sebagai benang merah dalam pengalaman berbuka puasa tahun ini, menghadirkan perjumpaan rasa, tradisi, dan cerita dalam satu meja.
Deretan hidangan yang tersaji menjadi representasi dari gagasan tersebut. Sajian Indonesian–Arabian seperti kebab, roti maryam, mie Aceh, dan gulai menghadirkan rasa yang akrab dan membumi. Sementara itu, pilihan Chinese course seperti salted egg yolk chicken, chinese glass noodles, kung pao chicken, dan mapo tofu memberi sentuhan oriental yang kuat. Di antara ragam menu tersebut, Bebek Peking tampil sebagai ikon utama, menjadi pusat perhatian sekaligus jargon kuliner Oriental Ramadhan 2026.
General Manager Crown Prince Hotel Surabaya, Yudi Setiawan, menuturkan bahwa Oriental Ramadhan lahir dari pengamatan akan karakter masyarakat Surabaya yang multikultural.
“Surabaya adalah kota dengan dinamika budaya yang sangat hidup. Melalui Oriental Ramadhan, kami ingin menghadirkan pengalaman berbuka yang terasa dekat, relevan, dan mencerminkan harmoni budaya yang selama ini tumbuh di kota ini,” ungkapnya.
Pendekatan serupa juga tercermin dalam kurasi menu yang disajikan. Didik Irwanto, Food & Beverages Manager Crown Prince Hotel, menjelaskan bahwa perpaduan lintas budaya ini dirancang agar tetap selaras dalam satu rangkaian pengalaman bersantap. “Setiap hidangan kami posisikan bukan untuk saling menonjolkan diri, tetapi saling melengkapi. Tujuannya agar tamu dapat menikmati perjalanan rasa dari berbagai kultur tanpa kehilangan keseimbangan,” jelasnya.
Di balik dapur, proses eksplorasi rasa menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsep Oriental Ramadhan. Firidinal, Executive Chef Crown Prince Hotel, mengungkapkan bahwa setiap menu melalui tahap riset dan penyesuaian dengan selera lokal. “Kami mempertahankan karakter asli dari masing-masing masakan, namun kami sesuaikan teknik dan penyajiannya agar tetap relevan dengan preferensi tamu saat ini. Bebek Peking kami jadikan signature karena mampu merepresentasikan kekuatan konsep oriental yang kami angkat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar agenda kuliner, Gathering Iftar ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara budaya yang berbeda, serta antara hotel dan masyarakat. Melalui Oriental Ramadhan, Crown Prince Hotel menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan makna kebersamaan dan keberagaman.
Dengan terselenggaranya gathering ini, Crown Prince Hotel secara resmi membuka rangkaian program Iftar Ramadhan 2026, mengundang masyarakat Surabaya untuk merayakan momen berbuka dalam suasana yang hangat, inklusif, dan sarat cerita budaya.







