Surabaya, gantarnews.id – Pengelola tempat hiburan malam Surabaya sedang meradang, di sebabkan oleh seorang DJ tamu bernama She, batal tampil di even yang sudah diselenggarakan di venue di kawasan Kedungdoro tersebut.
Padahal, sebelumnya ia telah menyatakan kesediaan tampil. Namun, mendadak membatalkan penampilannya secara sepihak.
Sementara pihak venue mengaku sudah “mengunci” jadwal, menyusun konsep acara, hingga menyebarkan flyer promosi dengan menampilkan wajah dan nama sang DJ.
Pembatalan itu disebut terjadi menjelang hari pelaksanaan event. Ironisnya, menurut pengelola hiburan malam tersebut, komunikasi dan kesepakatan awal sudah tercapai sebelum materi promosi dipublikasikan.
“Kami tidak mungkin berani buat flyer kalau belum ada lampu hijau. Sudah ada obrolan soal tanggal, konsep, sampai teknis. Di Surabaya, sistemnya jelas: DJ dibayar saat datang dan tampil. Itu sudah jadi kebiasaan,” ujar Wahyu, salah satu perwakilan manajemen venue hiburan malam itu, Jumat (6/2).
Menurutnya, dalam industri hiburan malam, khususnya di Surabaya, skema pembayaran memang lazim dilakukan saat hari-H. Artinya, tidak semua penampilan diawali dengan transfer uang muka (DP).
“Namun, kesepakatan lisan maupun via pesan digital biasanya menjadi dasar komitmen sebelum promosi digulirkan,” kata dia.
Wahyu kemudian mengatakan akibat pembatalan sepihak itu, permasalahan mulai muncul ketika flyer sudah tersebar luas di media sosial. Nama DJ sudah dipakai sebagai daya tarik utama. Tiket dan reservasi meja mulai bergerak. Tiba-tiba, sang DJ disebut menyatakan tidak bisa hadir tanpa alasan yang dianggap memadai oleh pihak penyelenggara.
“Kalau dari awal tidak bisa, jangan bilang siap. Ini sudah dibuatkan materi promosi, sudah kami dorong marketing-nya. Reputasi kami yang dipertaruhkan,” tegasnya.
Pembatalan sepihak ini bukan sekadar soal batal tampil. Ada efek domino yang menghantam penyelenggara. Diantaranya potensi kerugian promosi, kepercayaan pelanggan, hingga citra brand venue yang bisa tercoreng.
“Dalam industri yang sangat mengandalkan hype dan konsistensi line-up, satu nama yang batal bisa memengaruhi animo pengunjung,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sejumlah pelaku hiburan malam di Surabaya menyebut kasus semacam ini sebenarnya bukan yang pertama. Persoalan klasiknya berkisar pada komitmen dan kejelasan kontrak. Tidak sedikit event berjalan hanya berdasarkan kesepakatan informal tanpa perjanjian tertulis yang mengikat secara hukum.
“Kalau sudah masuk tahap flyer, itu artinya secara etika sudah deal. Mau ada DP atau tidak, itu urusan teknis. Komitmen tetap komitmen,” ujar salah satu promotor lokal yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, pihak DJ She saat dikonfirmasi terkait kebenaran pembatalan sepihak oleh dirinya untuk tampil di even yang sudah disepakati langsung mengiyakan. “Benar,” singkatnya.
Sedangkan saat ditanya alasan dari pembatalan tersebut, DJ She mengatakan ada kepentingan keluarga. “Urgensi keluarga. SANGAT URGENT,” ucapnya.
Tak hanya itu, DJ She juga menantang media ini untuk memviralkan pemberitaan tentang dirinya serta membawa nama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Tolong di UP dong mas beritanya, biar aku viral. Minta tolong media yag lain juga dibantu buat di follow up berita ini. nanti aku minta pak (ketua LSM) buat bantu follow up berita aku ini,” tandasnya.(RI)







